BJ. Habibie Doddy Yudhistira Adams Kenangan Sejarah Bangsa Kolom

Presiden BJH Marah!

Oleh: Doddy Yudhistira Adams (Sekretaris Dewan Penasehat ICMI Oryanisasi Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta)

Siang itu aku di kantor menerima Dr. Munawar Achmad – Staf Ahli Menteri Koperasi yang diperbantukan pada kegiatan Mediaku. Munawar mengatakan bahwa nanti sore sehabis Maghrib akan ada pertemuan di Kediaman  Presiden BJH di Patra Kuningan. Pertemuan Petinggi Golkar.

Saya pun mengecek kebenarannya ke Marwah Daud Ibrahim. Ternyata benar Pak BJH minta kumpul malam ini. Hal tersebut saya sampaikan ke Temmy Habibie – adik Presiden – dan mengajaknya sore nanti kita Maghriban di Patra Kediaman Presiden BJH.

Sore itu kami meluncur ke Patra Kuningan dari Menara Batavia dan terjebak kemacetan di Kuningan. Jalan Kuningan sangat padat. Saya memerintahkan ajudan saya – Suwandi – untuk mencari dua ojek. Saya dan Temmy naik ojek dari Jembatan Kuningan menuju kediaman BJH.

Sampai di Patra azan Maghrib telah lewat. Kami sholat di Mushala bersama Mensesneg Prof. Muladi SH. Menurut Mensesneg, Presiden tidak berkenan hati dengan situasi akhir-akhir ini khususnya terkait kondisi Politik Partai Golkar.

Menjelang jam 19.00 kami dipanggil mendampingi Presiden untuk dinner di ruang makan. Tidak ada pembicaraan serius pada waktu makan kecuali membicarakan tentang Republika dan tabloid Adil. Selebihnya ngobrol santai saja.

Jarum jam menunjukan pukul 19.40. Cuaca gerah masih terasa di ibukota. Tapi lebih panas suasana pertemuan tidak resmi sekitar 45 petinggi partai Golkar yang sebagian sedang pisah ranjang membentuk kubunya masing-masing.

Acaranya berlangsung di Ruang Pendopo Kediaman Presiden BJH, Jalan Patra Kuningan Minggu malam 22 Agustus 1999. Tampak hadir di antaranya Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, Mensesneg Prof. Muladi, AA Baramuli, Marzuki Darusman, Ekki Sjahruddin, Marwah Daud Ibrahim dan lainnya.

Ajang pertemuan itu seperti membara karena BJH sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar marah besar. Pasalnya Marzuki Darusman mengancam keras pertemuan itu. Menurutnya cara AA Baramuli dengan irama sukanya sangat merugikan Golkar dan menjadikan Golkar negatif dalam mencari dukungan untuk Presiden BJH dalam sidang MPR mendatang. Itu akan menyebabkan kegagalan total bagi Golkar ujar Marzuki Darusman, yang diamini oleh Ekki Sjahruddin. Menurutnya, Golkar akan berhasil kalau Presiden bisa menuntaskan kasus korupsi HM. Soeharto dan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM zaman Orba.

Mendengar dan melihat muntahan kecaman itu, Presiden BJH tiba-tiba berdiri dengan wajah merah padam. Beliau tampak geram menahan emosi.  Bagaimana saudara bilang kita tidak bisa menang, kata beliau mengeras!

Saudara Marzuki dan sdr Ekki you are disqualified! Analisis saudara belum tentu benar karena hanya dilandasi ketidak sukaan saja! Saya tahu anda berdua orang intelektuil tapi sekarang saya meragukannya! Kata BJH dengan suara bergetar dengan wajah yang lugu itu memerah.

BJH pun duduk mimun air putih dan suasana pun jadi hening sejenak. Kemarahan BJH itu menjadi titik klimaks dari bola konflik yang mengelinding di Partai Golkar sejak awal.

Acara malam itu mempertemukan dua kubu yang sudah berlainan prinsip sejak awal. Awal dari perpecahan PG sudah terlihat sejak awal Agustus 1999 dimana 13 DPD Golkar mempertanyakan arah dan kewibawaan kepemimpinan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung.

Akhirnya AA Baramuli mendapat kesempatan berbicara dan nenyampaikan gerakan Marzuki Darusman dkk yang menyimpang dan tidak mendukung kepemimpinan BJH ke depan. Disinggung pula kurang berwibawanya sang Ketua Umum yang tidak jelas arahnya.

Mendengar hujatan itu Marzuki buka mulut. Media pers memang pernah memuat ucapan  Ketua Komisi HAM tersebut yang menyebut Jenderal Wiranto layak sebagai calon Presiden. Ucapan itu dianggap Baramuli sebagai sikap blunder politik yang tidak mendukung pencalonan BJH.

Ruangan pun menjadi hening. Sampai sejauh itu Marzuki cs belum bereaksi. Tetap diam. Tiba-tiba Marzuki berbicara dengan tudingan menyengat, “Ada satu orang yg bisa menghentikan jalan pak Habibie menuju kursi presiden”, katanya sambil menunjuk ke arah Ketua DPA AA. Baramuli.

Wajah Baramuli pun jadi merah padam dan sangat kaget dengan tudingan Marzuki Darusman itu. Kegiatan orang ini harus kita hentikan, suara Marzuki mengeras!

Suasana panas.  Kecaman Marzuki semakin pedas ketika pembicaraan menyinggung prospek masa depan politik Habibie. Tampak pertemuan mulai tidak terarah.  Semua peserta pertemuan terdiam dengan seribu satu pikrannya. Mereka saling pandang dan mulai melihat gelagat ketidak-sukaan Presiden BJH terhadap pertemuan itu. Tapi suasana kemudian sedikit mencair ketika tokoh senior Ekki Sjahruddin memecah kekakuan dan kebisuan.

Katanya, Pak Habibie anda tidak boleh marah, yang disampaikan saudara Marzuki itu berdasarkan pengamatannya dan dia tidak menolak anda untuk jadi presiden, kata Ekky diselingi dengan humor-humor untuk mencairkan situasi!

Presiden BJH pun tampak menurunkan emosinya sambil tertawa lepas. Kamu bisa aja Ekki he he. Ketawanya lebar menandakan cair. Saya hargai saudara Marzuki atas masukannya, ujar BJH.

Singkat kata pertemuan itu barakhir tengah malam dengan happy ending diakhiri ketika hari telah menunjukan senin  tanggal 23 Agustus 1999. Saya pun bergegas pulang ke Proklamasi karena subuhnya bersama Adi Sasono Menkop harus ke Pakanbaru Riau.* (Dikutip dari biografie DY DI RING SATU RI SATU ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *