Achmad Charris Zubair

ISLAM SEBAGAI PEMBAWA DAMAI DALAM KEMAJEMUKAN BUDAYA

Oleh: Achmad Charris Zubair (Kepala Departemen Kebudayaan dan Pengembangan Pariwisata Daerah ICMI DI. Yogyakarta)

 

Kemajemukan Sebagai Keniscayaan

Islam memang berarti Salaam atau damai. Islam disebut juga dengan anugerah indah bagi alam atau rahmatan lil ’alamien. Namun damai tidaklah bermakna kita hidup bersama dengan orang-orang yang sepaham atau manusia yang serupa saja. Sebab pada dasarnya manusia tidak mungkin sama atau sepaham. Manusia adalah unik, karena diciptakan demikian. Sehingga kemajemukan pada dasarnya merupakan bagian keniscayaan hidup itu sendiri. Orang sering mengajukan pertanyaan: Mengapa kalau Tuhan itu satu dan oleh karena itu kebenaran itu juga satu, kehidupan alam semesta justru menampilkan kemajemukan? Sangat menarik apa yang disampaikan oleh Musa Asy’ari (2001: 56-58): Hakikat kemajemukan itu tunggal dan yang tunggal itu bereksistensi terus tanpa henti dalam melahirkan kemajemukan. Kemajemukan menjadi tidak semakin sederhana, namun sebaliknya menjadi semakin kompleks. Karena sesungguhnya proses tersebut akan terus berlangsung, sepanjang masih ada kehidupan yang pada hakikatnya adalah rangkaian sambung menyambung terus menerus tidak berhenti, kecuali jika kehidupan sudah berakhir dengan kiamat. Oleh karena itu kemajemukan tidak bisa dihindarkan apalagi ditolak. Meskipun manusia cenderung untuk menolaknya, karena kemajemukan dianggap sebagai suatu ancaman terhadap eksistensinya atau eksistensi komunitasnya. Walaupun sesungguhnya penolakan terhadap kemajemukan sama artinya dengan menolak kehidupan itu sendiri. Karena pada dasarnya kemajemukan merupakan kodrat dari kehidupan yang tidak mungkin ditiadakan. Hidup damai dimungkinkan apabila kita mampu membangun kesadaran bahwa ’berbeda’ itu hal biasa dalam kehiduoan.

Pertama, Kemajemukan Kebudayaan atau kultural merupakan realitas yang paling elementer dan oleh karena itu tidak dapat dihindarkan, dan Allah sendiri berfirman dalam Al Qur’an:

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (AQ 49:13)”

Karena merupakan hal yang tak terhindarkan dari kehidupan pada dasarnya kita tidak dapat begitu saja memberikan penilaian baik, buruk bahkan benar, salah semata-mata berdasarkan perbedaan kultural. Atau kita tidak dapat mengartikulasikan dan mengidentifikasikan kebenaran substansial dengan bahasa kultural. Islam tidak dapat begitu saja diidentikkan dengan kultur Arab. Orang Islam yang benar bukan orang yang sehari-harinya memakai baju gamis dan berjenggot karena keduanya lebih bernuansa kultural Arab daripada kebenaran Islam. Sangat berbahaya apabila Islam terjebak kepada pandangan dan sikap formalisme seperti  itu. Bahkan kalau kita melihat fenomena kehidupan masyarakat yang ada pada saat sekarangpun, dapat dilihat simbol-simbol kultural yang terlanjur dianggap identitas Islam berasal dari latar belakang kultural lain. Bentuk arsitektur kubah masjid yang dianggap identitas Islam, ternyata merupakan adopsi dari arsitektur Majusi penyembah api di Persia kuna. Sarung yang menjadi pakaian santri di Indonesia merupakan tradisi berpakaian orang Budha di Birma, demikian juga baju “taqwa” yang merupakan adopsi dari pakaian China. Atap masjid Demak konon merupakan tiruan dari atap tempat adu ayam. Sehingga seorang muslim pada dasarnya syah-syah saja apabila memakai pakaian sesuai dengan kulturnya, dan tidak boleh ada pemaksaan agar orang menanggalkan pakaian yang sesuai dengan kebudayaannya dan menyamakannya. Asal persyaratan substantif menutup aurat dipenuhi, mengapa tidak kita kembangkan dan kita akui kemajemukan kultural ini.

 Kedua, Kemajemukan Normatif yang mengisyaratkan adanya perbedaan penafsiran dan pemaknaan terhadap nilai dan norma yang sama. Ini terjadi karena adanya perbedaan pengalaman, kemampuan dan juga persoalan yang dihadapi secara berbeda. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

“Bagi tiap-tiap umat di antara kamu, Kami telah jadikan peraturan dan jalan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu tentang apa yang telah diberikan-Nya kepada kamu. Maka berlomba-lombalah kamu berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah tempat kembali kamu sekalian, maka Dia kabarkan kepadamu apa yang kamu perselisihkan itu (AQ 5:48)”

Kemajemukan Normatif dalam Islam pada lebih bersifat aksidensial yang menghasilkan masalah khilafiyah. Hal itu sangat dimungkinkan karena Islam juga membuka kemungkinan untuk berijtihad bagi umatnya. Rasulullah pernah bertanya pada Muadz bin Jabal, dengan apa ia akan menyelesaikan masalah. Dijawab dengan menggunakan pedoman Al Qur’an dan asSunnah, dan akan menggunakan akal fikiran kalau tidak ditemukan jawabannya pada keduanya.. Al-Qur’an sangat meng­anjurkan ummat Islam untuk menggunakan akalnya (Nasution 1986:39, Jamil 1995: 19). Akal menjadi kata kunci dalam pelaksanaan ijtihad dan tajdid. Tentu saja ini sejalan dengan penegasan Al-Qur’an sendiri, di mana manusia menu­rut konsep Islam adalah makhluk terbaik, termulia diban­dingkan makhluk lain yang diciptakan Allah (Al Israa:70, At Tiin:4).

Pengetahuan manusia yang mengisyaratkan adanya kualitas akal merupakan unsur yang membedakan manusia dengan malaikat yang “hanya” mampu tunduk dan sujud se­hingga tidak kreatif, serta membedakannya dengan makhluk lain yang hanya mampu merusak dan saling menumpahkan darah. Dengan demikian manusia mempunyai hak untuk mendapatkan penghormatan dari makhluk lain, dan sesuai dengan martabat itu manusia menjadi khalifatullah fil ardh (Al Baqarah:30-34).

Manusia mendapatkan kedudukan dan beban tanggung jawab khusus karena ia harus mengembangkan potensialitasnya menjadi aktualitas. Potensialitas manusia berkembang dengan kemampuan inderawi, naluri, imajinasi, hati nurani, dan fikiran rasional yang dalam konsep Islam harus dibedakan dengan akal. Akal dalam pengertian di atas sebagai kata kunci ijtihad dan tajdid lebih merupakan pengertian yang mencakup keseluruhan kemampuan manusia menangkap di­mensi kebenaran. Akal menggabungkan fungsi fikiran ra­sional dengan hati nurani, bahkan imajinasi, sehingga meng­atasi kebenaran inderawi dan naluri. Ketiganya berhubungan secara organis dan fungsional dalam pengertian akal. Pan­dangan ini sejajar dengan pendapat Musa Asy’arie yang ber­pendapat bahwa akal merupakan daya rohani untuk mema­hami kebenaran yang bekerja menggunakan fikiran untuk memahami dimensi fisik dan qalbu untuk memahami dimensi metafisik (Asy’arie 1992). Sejajar pula dengan pandangan Syed Hussein Nashr, yang menulis bahwa kata al-’aql di dalam bahasa Arab, selain berarti fikiran rasional juga digunakan untuk menerangkan sesuatu yang mengikat manusia dengan Allah. Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebut mereka yang ingkar adalah mereka yang tidak dapat menggunakan akalnya dengan baik dan benar. Runtuhnya iman tidak disamakan dengan timbulnya kehendak buruk, melainkan dengan tidak adanya penggunaan akal secara baik (Nashr 1983). Pandangan ini menjadi sangat populer pada masa kebangkitan Islam di awal abad ini sampai sekarang, masa di mana banyak gerakan Islam ingin pula disebut sebagai gerakan “modern” yang mampu menjawab tantangan masa. Kita dapat melihatnya sebagai contoh pada tulisan Fazlur Rahman (1968) dan juga Hourrani (1970), kendatipun bagi para pemikir barat seperti Max Weber yang terkenal dengan telaah “etos kerja”nya, Islam tetap dianggap sebagai sistem yang anti akal.

Islam sebagai pembawa kedamaian memperhatikan kemajemukan normatif ini dan menyadarinya sebagai realitas keumatan dalam Islam. Yang terpenting jangan sampai terjadi pemaksaan kehendak atas dasar keyakinan ijtihadnya semata-mata. Dengan memastikan bahwa komunitas Islamnya pasti paling benar dan komunitas Islam yang lain pasti keliru. Secara akademik kita semestinya menempatkan perbedaan pandangan antar umat Islam sendiri dengan menempatkan semua aliran pemikiran dan konsep sebagai sesuatu yang belum mutlak kebenarannya, bersifat relatif, temporer dan dinamik. Karenanya diperlukan suatu dialog yang terbuka, sehingga terjadi proses sisntetik yang mempertemukan berbagai pandangan yang pada dasarnya berasal dari nilai yang sama. Terutama harus dihindarkan kepentingan kekuasaan dan sosial politik, sebab hakikat kebenaran tidak bisa ditentukan oleh kekuasaan dan kekuatan, melainkan oleh aktualisasinya dalam kehidupan.

Ketiga, Kemajemukan Substantif yang menyangkut perbedaan prinsip dan perbedaan aqidah. Di dunia ini juga akan ditemukan  kemajemukan prinsipial sebab pada dasarnya orang tidak dapat dipaksa untuk mengikuti prinsip yang sama. Sehingga dalam kehidupan manusia ada bermacam-macam keyakinan agama. Hal ini bisa terjadi karena pemeluk agama masing-masing memutlakkan kebenaran agamanya dengan menyalahkan keyakinan orang lain. Agama sendiri di satu sisi tampil seba­gai kekuatan yang me­nyatukan persepsi antar agama dengan kesamaan prin­sip, tetapi di lain pihak agama muncul sebagai pemecah manakala bertemu dengan agama lain yang berbeda bentuknya. Pada dasarnya agama yang cenderung mengklaim bahwa dirinya paling benar juga sepe­nuhnya tidak bersalah sebab agama tidak dapat hidup tanpa ada landasan yang pasti untuk menjadi pedoman bagi penganutnya. Akan menjadi masalah serius ketika klaim kebenaran itu bermuara pada sikap dan cara yang bersifat tidak toleran terhadap agama dan penganut agama lain. Hal ini akan menimbulkan konflik antar umat beragama yang tajam.  Tentu saja hal itu akan diperkuat apabila terjadi pula manipulasi kebenaran agama untuk men­dukung atau melegitimasi kepenting­an-kepentingan lain yang sesungguhnya non-agama(Imam Azis 1994: 11).

Kesadaran akan kemajemukan merupakan wacana yang ha­rus dikem­bangkan secara terus menerus, sebab pada dasarnya akan menjawab secara tepat relevansi agama dalam ikut menata kehidupan damai manusia yang ber­sifat plural. Justru karena di dalam agamalah kita dapat menemukan potensi hakiki dari agama itu sendiri yakni manusia dapat menemukan titik temu, misalnya ajaran agama yang mengajarkan umatnya untuk juga me­ngasihi penganut agama lain. Walaupun untuk itu tetap diperlukan sikap jujur dari para pemeluknya. Fenomena agama, memang merupakan wacana yang tidak akan habis-habisnya, terutama karena agama dipahami seba­gai satu-satunya sistem nilai dan norma yang kebenarannya diyakini oleh para penganutnya. Keyakinan tersebut akan menjadi asing bagi para pe­meluk agama lain. Kendatipun demikian pada dasarnya orang tidak bertengkar atau konflik hanya semata-mata perbedaan penganutan dalam agama. Se­hingga kalau terjadi konflik antar umat beragama atau meli­batkan umat beragama yang satu melawan yang lain, pasti le­bih banyak didasarkan atas konflik kepentingan lain seperti sosial, ekonomi, kebudayaan, politik dan kekua­saan, perla­kuan yang tidak adil dan sebagainya, yang sesungguhnya tidak semata-mata berdasarkan agama. Agama dan juga latar belakang kemajemukan yang lain dapat menjadi pemicu bagi terjadinya konflik, karena dengan jelasnya perbedaan makin jelas pula identitas “musuh” dan identitas “kawan”.

Allah sendiri berfirman dalam Al Qur’an:

“Mereka yang mendengarkan ucapan, dan lalu mengikuti yang terbaik, maka merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah dan merekalah orang-orang yang berakal (AQ 39: 18)”

“Mereka diberi petunjuk dengan ungkapan yang baik, dan mereka diberi petunjuk yang terpuji (AQ 22: 24)”

“Tidak ada paksaan dalam menganut agama, sebab sudah nyata perbedaan antara yang benar dengan yang keliru (AQ 2: ?)

Sangat menarik apa yang ditulis oleh Amin Ab­dullah (1994), di mana orang sering menganalogikan hakikat keberadaan “agama” dengan keberadaan “ba­hasa”. Orang tidak dapat menolak adanya kemajemukan agama, namun kenyataan adanya keanekaragaman ba­hasa yang dimiliki oleh berbagai identitas kelompok manusia tidaklah dapat dijadikan argumen untuk me­ngajukan tuntutan bahwa bahsa yang satu lebih sem­purna, lebih baik dan lebih maju dari bahasa yang lain. Dari segi tata bahasa, kosa kata, idiom bahkan detil ungkapan yang diguna­kan oleh masing-masing bahasa memang dapat berbeda-beda sehingga mempelajari gramatika salah satu bahasa dapat saja lebih sulit dari­pada bahasa yang lain. Namun keanekaragam­an ung­kapan bahasa tersebut terjalin kandungan “makna” dan “fungsi” yang sama, yaitu sebagai alat komunikasi atau sarana untuk mengungkapkan gagasan, keinginan, perasaan antara satu dan lainnya. Tampak di sini, di­mensi universal dan sekaligus partikularitas bahasa. Fungsi dan makna yang dikandung oleh partikularitas bahasa menyatukan dan me­nyamakan bahasa. Perbe­daan bukan merupakan alasan untuk menegaskan yang satu dengan menegasikan yang lain. Se­mentara peme­lukan agama tertentu oleh seseorang atau kelompok manusia pada umumnya adalah sangat berbeda secara intelektual, meskipun antara keduanya tidak dapat atau tidak perlu dipertentangkan sama sekali. Relijiusitas manusia pada umumnya bersifat universal, tidak terba­tas, trans-his­toris. Namun relijiusitas yang begitu ab­strak pada hakikatnya tidak dapat dipahami  oleh manusia tanpa sepenuhnya terlibat dalam bentuk ung­kapan relijiusitas yang konkret, terbatas, terikat oleh ruang waktu subjektif.

Memang Al Qur’an sendiri memiliki ayat-ayat yang menunjukkan adanya kemajemukan keyakinan karena didasarkan atas perbedaan yang paling mendasar. Sebagaimana Al Qur’an sebagai firman Allah menyebutkan:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), yaitu orang-orang diberikan kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Orang-orang Yahudi berkata:: “Uzair adalah putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata “Al Masih adalah putera Allah”. Demikianlah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknat Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (AQ 9: 29-30)

Penutup

Islam sebagai pembawa panji perdamaian dapat teraktualisasi dalam hal:

  1. Menghormati perbedaan kebudayaan antara wilayah tertentu dengan yang lain, kurun waktu tertentu dan kurun waktu yang lain. Kondisi sosial-ekonomi tertentu dan kondisi yang lain. Historisitas tertentu dan historisitas yang lain. Universalitas Islam justru nampak dalam penghargaannya terhadap kemajemukan kebudayaan. Jadi Islam tidak membunuh kemajemukan kultural yang merupakan sunatullah. Arsitektur masjid dapat tampil berbeda di masing-masing tempat, baju kaum muslimin bisa bermacam-macam, istilah langgar dan surau tidak harus diganti mushola, kesenian Islam tidak harus berupa qasidah dan nasyid, dan lain sebagainya.
  2. Umat Islam sendiri tak mampu menghindar dari kemajemukan interpretasi.Di dalam umat terjadi perbedaan yang melahirkan komunitas Islam yang ‘berbeda’ Sunni, Syi’ah dan Khawarij yang masing-masing mengklaim kebenaran. Yang terpenting untuk meciptakan perdamaian adalah dilakukannya dialog terus menerus dengan memilahkan secara jernih mana masalah yang bersifat aksidensial dan mana yang bersifat substansial. Sehingga Islam rahmatan lil ’alamien berarti juga mencegah terjadinya perselisihan besar di kalangan umat atau al-fitnah al-kubra.
  3. Adanya realitas bahwa di luar Islam ada komunitas lain seperti ahli kitab, orang musyrik dan orang kafir. Yang dapat dilindungi (Dzimmi) atau diperangi tergantung pada kondisi yang ada. Bagaimana mengembangkan toleransi dan hubungan antar umat beragama, dan lain sebagainya. Dalam hal berhadapan dengan yang berbeda prinsip, diperlukan semangat spiritualitas baru dalam Islam yang mampu mengesankani bahwa Islam sebagai agama tidak se­kedar ajaran ritus, melainkan juga sebuah sistem yang mampu mengatasi masalah penin­dasan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, kerusak­an lingkungan, dan seba­gainya. Dihadapan pemeluk lain, Islam harus tampil sebagai pemahaman agama yang bersifat fungsional yang ber­makna konkret-sosial. Islam semestinya tampil sebagai konsep teologi yang secara kontekstual dapat meme­cahkan persoalan zamannya.

 

Sumber Ilustrasi Gambar:https://4.bp.blogspot.com/-aV8ArdGFVig/WHMLQ1KjA-I/AAAAAAAACLw/VeDjScOR140gRUEhc_tHgj658ECt6uwawCLcB/s1600/ubi-petrus-catholic-church.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *