BJ. Habibie Doddy Yudhistira Adams Kenangan Sejarah Bangsa Kolom

HABIBIE SANG PRESIDEN DAN DEMOKRATISASI DI INDONESIA

Oleh: Doddy Yudhistira Adams

 

Satu saat setelah Sidang Umum MPR tahun 1999, Presiden Habibie berucap; “Doddy, banyak orang selalu melecehkan saya, namun karenanya saya berhasil melaksanakan banyak hal yang saya berperan dan terlibat di dalamnya, bagi bangsa maka saya ingin sejarah mencatatnya.”

Saya pun menjawab; ” Mas Rudy, sejarah sudah mencatat bahwa BJ Habibie adalah Presiden RI ke 3 yang membawa Indonesia Demokratisasi dan menghargai HAM.”

Terlihat mata beliau berkaca-kaca setelah mendengar jawaban saya. Saat itu ada Dr. AW Pratiknya dan Temmy Habibie adik beliau yg terkecil.

Mawas diri ini memberikan sekelumit tentang sosok yg sangat kompleks namun cemerlang ini, yang juga senantiasa mencengangkan para pengecamnya.

Dalam kehidupan kedewasaan profesionalnya, bagi saya Habibie adalah pembangun dan fasilitator besar baik dalam bidang kedirgantaraan yang sangat beliau kuasai maupun sebagai makhluk politik pejabat negara atau sebagai ilmuwan bertaraf internasional.

Sampai hari terakhir dalam jabatannya sebagai Presiden RI pun, kendati hujatan dan penghinaan terhadap dirinya demikian hebatnya, beliau tetap larut dalam misinya, yaitu sistem politik demokratis yang beliau mulai 17 bulan sebelumnya.

Sepanjang masa kepresidenannya, penentang terhadap dirinya baik dari dalam pemerintah maupun tubuh partainya yaitu Golkar tak pernah reda. Banyak keraguan bangsa ketika itu. Juga dari negara-negara ASEAN terutama Singapore. Habibie oleh penentangnya dilukiskan sebagai figur presiden yang tidak memiliki keabsahan (legitimasi) politik dan kebijakan-kebijakan beliau dianggap berbahaya bagi kesatuan dan persatuan negara di samping tak realistik untuk mengobati penyakit yg melanda negeri ini. Mengapa demikian?

Pengamatan yg seksama akan mengungkapkan betapa penentangan terhadap Habibie antara Mei 1998 hingga Oktober 1999 mempunyai sejarah panjang yang berawal pada bulan Januari 1974, saat ia menjejakkan kakinya pertama kali di bumi Indonesia sekembalinya dari Jerman atas perintah Presiden Soeharto.

Mengingat disiplin pribadinya, etos yang menjadi keyakinan hidupnya terutama pandangan hidup yg sholeh, Habibie yang saya kenal tidak pernah mengacuhkan para penentang dan pengecamnya. Ia juga teguh pada keyakinan bahwa sebagai seorang ilmuwan begitu rumusannya terbukti benar maka mau tak mau masyarakat akan menerima kebenaran itu. Apalagi hal-hal yang berkaitan dengan keadilan dan kemanusian. Begitupun banyak hal-hal yang tak benar yang dilontarkan orang terhadap Habibie semata-mata karena ia benar dan kini terbukti. Begitu pula di Partai Golkar, ia mendapat tentangan keras dari tokoh-tokoh Golkar saat itu. Tapi ia tak peduli, the show must go on.

Sebagai orang tak tak pernah mau diajak berlaku korupsi, beliau yang saya kenal sangat cerdas, efektif berpandangan jauh ke depan melebihi perkiraan kita.

Meskipun Pemerintahan Presiden Habibie tidak lama hanya berlangsung 17 bulan namun bagi beliau cukup menetapkan sistem politik yang membawa Indonesia ke arah demokratisasi, perbaikan di bidang ekonomi, hukum dan sosial budaya yang masih digunakan negeri ini hingga kini.

Kurs dollar terendah setelah reformasi yang di Zaman pemerintahannya menjadi 6380 rupiah per dollarnya. Saat beliau menerima kepemimpinan RI dari Presiden Soeharto kurs rupiah 17.000 rupiah per dollarnya.

Pembicaraan saya dengan beliau di atas terjadi setelah Sidang Umum MPR yang menolak pidato pertanggung-jawaban sebagai Presiden RI.

“Karena mereka menolak pertanggungan-jawab saya sebagai Presiden, maka berarti mereka tidak mempercayai saya. Maka itu saya menolak untuk dicalonkan lagi oleh siapapun sebagai Presiden RI.”

Jawaban beliau yakin dan ikhlas! Malah kami kami ini orang-orang di sekitar beliau yang kurang Ikhlas saya melihat kami haru semua. Saat itu hening mencekam padahal beliau masih bisa dicalonkan sebagai Presiden di Sidang Umum MPR.

Habibie saya kenal tahun 1991 saat saya bersama-sama Mas Adi Sasono mendirikan CIDES (Central Information and Development Studies).

Satu hari di kantor Meristek, Adi Sasono membawa saya bertemu BJ Habibie di Ruang Kerjanya. “Oh ini Doddy ya yang tokoh Penerbitan Buku itu!” sapanya Ramah.

Terus saya mendengar ceritanya panjang lebar tentang buku, perpustakaan dan penerbitan seperti kita sudah kenal lama.

Biasa memang jika kita bertemu dengan Habibie jika beliau berkenan maka humble bercerita panjang lebar. Kadang-kadang kita tidak ada kesempatan untuk bicara. Saya terlebih dulu mengenal adiknya Temmy Habibie sejak dia kuliah di ITB Bandung. Temmy lah yang makin merekatkan hubungan saya dengan BJ Habibie.

Kami selalu memanggilnya Mas Rudy. Temmy agak berani menentang kakaknya. Dia selalu menjawab apa saja yang diutarakan kakaknya dan terkadang menentang. Biasanya saya menjadi penengahnya. Jika ada Bu Ainun, Bu Ainun pun ikut menjadi penengahnya.

Setelah saya berhenti di pemerintahan saya pun membantu Temmy di perusahaannya Timsco khususnya di Usaha bidang Media Televisi (Indosiar), Radio dan Media Cetak. Mas Rudy pun senang saya bersama Temmy, Saat itu kami memiliki sebelas Media Cetak termasuk Adil yang tadinya milik Muhammadiyah Solo. Di tangan kami, Adil pun pernah mencapai oplah 600ribu exemplar.

Di Ring Satu RI Satu selama 17 bulan dan di situasi Negara yang tak menentu dan banyak penentang saat itu, kami bisa membawa stabilitas demokratisasi dan Pemilu yang benar-benar bebas adil. Kebebasan pers pun bisa kami buka selebar-lebarnya. Syarat SIUPP pun kami hapus. Merdeka benar benar merdeka diciptakan Pemerintahan Presiden BJ Habibie dan alhamdulillah saya ikut di dalamnya.

Hubungan saya berlanjut dengan Mas Rudy di The Habibie Center bersama Prof. Wardiman Djojonegoro, Prof. Muladi, Prof. Jimly Asshidique, Prof Dewi Fortuna Anwar, Dr Fuadi, Prof Indria Samego, Prof. Malik Fadjar dan lainnya. Tahun 2007, saya pamit dari THC dengan Mas Rudy. Saya ingin minandito di Yogyakarta kota masa kecil dan kota ibu saya. Di samping itu hangat dekat anak cucu….. (DY di RSRI-1).

 

Sumber Ilustrasi Foto: http://www.flidata.com/wp-content/uploads/2016/10/kisah-inspiratif-bj-habibie.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *