BJ. Habibie Doddy Yudhistira Adams Kenangan Sejarah Bangsa Kolom

TEGANG MENJELANG ICMI LAHIR





Oleh: Doddy Yudhistira Adams

Masa2 menjelang tahun 1990an para LSM sangat tidak mendukung kelahiran ICMI. Dari pertengahan sampai akhir tahun itu perhatian LSM2 dan kelompok2 masyarakat yg berhubungan dengan di pusatkannya untuk mencegah pembentukan ICMI dan yg paling utama mereka tidak menghendaki BJ Habibie jd Ketuanya. Secara khusus pimpinan militer ketika itu aktif dan bersekongkol dengan LSM untuk mencegah kelahiran ICMI serta kepemimpinan Habibie atas organisasi itu.

Mereka memandang ini sebagai hal yang salah, terjadi pada saat yg salah dan melibatkan orang2 yg salah pula. Saat kelahiran ICMI dibawah pimpinan Habibie, di pandang sebagai perkembangan yang berbahaya bagi bangsa. Saat itu saya selalu berdialog dng Prof Daoed Joesoef di CSIS, menurutnya ada tiga hal yang salah pertama timing terbentuknya ICMI tidak menguntungkan Indonesia baik dalam negeri maupun Luar negeri. Beliau mengkaitkan dengan persoalan Ekonomi. Kedua soal kelahiran ICMI tidak pada tempatnya karena kita saat itu tinggal 10 tahun lagi memasuki milinium baru, dan pemberdayaan umat islam akan bisa menggeser paradigma politik nasional, terutama dibawah kepemimpinan Habibie. Ketiga inilah masa tesis bentrokan peradaban disiapkan pasca perang dingin dan terbukanya globalisasi dan informasi.

Bangkitnya umat islam akan mempunyai implikasi khusus dan serius bagi Indonesia. Khusus nya minoritas yg mulai teracam. ” Coba Doddy, kamu bayangkan masa depan Indonesia yg akan menyempit!” Kata Prof Daoed Joesoef mengeras. Sepulangnya dari CSIS saya bertemu dng Adi Sasono di Kantornya jln Pekalongan Menteng. Saya sampaikan pembicaraan saya dengan Prof DS, saran Adi Sasono ceritakan lah kepada Bang Imad ( Imaddudin Abdulrahim ). Soalnya AS tidak bisa mengikuti Kelahiran ICMI karena harus ke Bangkok selama 3 bulan sampai awal Maret 1991. Pertemuan saya dengan Bang Imad malah membahas upaya penjegalan Rencana Simposium Cendekiawan 7 Desember 90 di Malang.

“Doddy ada upaya agar Presiden tidak merestui dan tidak akan hadir di Simposium. Saya sudah mendengar dari badan Intelijen ABRI Doddy,” kata bang Imad kesal. Saya dengar dari Bang Imad, Bais mau menerima Icmi jika Icmi hanya sebagai LSM saja dan bergerak terbatas di Jakarta saja. Ketika hal itu disampaikan ke BJH, beliau gusar. Apa urusan ABRI ikut2an, beliau tolak usul itu dan Presidenlah yg akan resmikan Icmi di Simposium Cendekiawan Islam tgl 7 Des 90 di Malang.

Begitu pun Habibie sampai di Malang tanggal 5 Des 90 sore hari, aparat keamanan dan kepolisian masih tetap tidak memberikan izin bagi seminar dan peresmian Icmi esok harinya. Habibie pun sore itu meninjau pabrik senjata Pindad di Tuen Malang dan disanalah Bang Imad sebagai Ketua Penyelenggara Simposium melaporkan bahwa sampai detik itu izin penyelenggaraan belum keluar. Bang Imad pun menyampaikan kepada BJH kalau pertemuan dilanjutkan takut ada masalah dng aparat keamanan seperti pertemuan di Tawangmangu Solo yl.

BJH pun menjawab; “Kita akan terus maju dengan atau tanpa izin aparat, sdr catat jika mereka datang bawa surat perintah untuk membubarkan Simposium surat itu akan saya robek di depan mereka!” Jawab Habibie geram dan tegas!

Lanjut BJH ; “Saya tidak peduli walaupun akibatnya mereka akan membunuh saya!”

Pernyataan keras BJH itu disampaikan dihadapan tokoh2 terpandang masa itu yaitu; Azwar Anas, Wardiman Djojonegoro, Achmad Tirtosudiro dan tokoh Yogya AW Pratiknya. Saat itu Achmad Tirtosudiro yg Jendral mengingatkan BJH untuk jangan bermain api dengan ABRI. AT menyarankan kontak saja Kapolri dan Pangdam Brawijaya yg waktu itu di Jabat Jend Hartono.

Para perencana Simposium pun mulai tersenyum ketika mendengar Penguasa Republik waktu itu Presiden Soeharto tiba pagi hari tgl 6 Des 90. Turun di tangga pesawat Pak Harto pun bertanya kepada Habibie apakah semua beres, BJH pun menyatakan semua siap diresmikan. Petugas Intelejen dan Kepolisianpun terdiam dan mereka terpaksa mengawal Presiden Soeharto ke Unbraw Malang.

Yang saya kagumi dari Habibie beliau bukanlah seorang pengecut, selalu siap menempuh Resiko walaupun sudah di peringatkan Jendral AT dan kemudian hari saya tahu dari beliau bahwa semuanya tidak ada yg disembunyikan di balik Presiden beliau ceritakan semuanya. Setahu saya pak Harto pun menegor Pangdam, Pangab dan Kapolri. Dengan latar belakang demikian dalam perjalanan saya mencatat hubungan BJH dengan Militer kurang harmonis dan juga Pencalonannya sebagai Wapres th 1998 kurang mendapat dukungan Militer tapi Soeharto sangat menghendakinya.

Sumber Ilustrasi Foto: http://www.kanigoro.com/wp-content/uploads/2017/12/IMG_6733.jpg

Sejak th 1996 Soeharto sudah memberi Sinyal penuh dan tanda2 akan BJH untuk RI 2. Setiap catatan pertemuan BJH dan Presiden selalu disampaikan ke kami untuk bahan2 Cides. Dari catatan2 itulah saya yakin BJH jadi Wapres th 1998 nanti.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *