Doddy Yudhistira Adams Kolom Zaman Zaman Now

GADGET DAN MANUSIA ZAMAN NOW




Oleh: Doddy Yudhistira Adams

 

Dalam perjalanan menaiki MRT dari stasiun Orchard sampai stasiun Raffles City, Singapore, beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan begitu banyak orang yang menggunakan gadget: handphone, iPad, Laptop. Ada orang saling bertelpon dengan temannya yang berada entah dimana. Ada orang yang asyik mendengarkan musik dengan “earphone” ditelinganya. Mereka mengangguk-anggukan kepalanya sambil mulutnya “bernyanyi”. Ada orang yang melihat handphone sambil menscrool layarnya. Ada yang tampak serius. Ada yang tersenyum-senyum. Ada yang tertawa. Ada pula yang acap mengernyitkan dahi.

Di sudut yang lain, sekelompok anak-anak berpakaian sekolah juga tak berbeda. Mereka membuka handphone, tak menghiraukan orang-orang lain yang ada di sekitarnya.

Sesampainya di Rafless City, saya mampir sejenak di sebuah Cafe, duduk di sudut Cafe itu, memperhatikan orang yang sedang berada di dalam Cafe. Pemandangan yang kelihatan tampaknya tak jauh berbeda dengan apa yang saya saksikan di dalam MRT.

Di ruang-ruang Cafe itu, orang, hampir semua yang hadir di situ, membuka gadget. Asyik dengan masing-masing gadgetnya. Mereka tak terlalu memperhatikan dan memperdulikan orang di sebelahnya. Mereka asyik ‘bekomunikasi dengan gadgetnya’. Mereka tak terlalu berminat berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya, sekalipun orang yang ada disekitarnya itu adalah temannya, atau anggota kelurganya. Hanya sesekali mereka bercakap satu sama lain, dan kemudian mereka asyik kembali bercengkrama dengan gadgetnya masing-masing.

Perilaku seperti itu, tak hanya terjadi pada anak-anak. Remaja, dewasa bahkan orang tua menunjukan prilaku yang sama. Mereka semua intensif berinteraksi dengan gadget. Bermain games, melihat whatapps, membaca FB, membuka Line, melihat Instagram, mengirim email, dan lain-lain.

Saya menyaksikannya dengan seksama. Mereka berinterelasi dengan gadget berjam-jam. Bermenit-menit. Paling kurang satu jam lebih orang baru meletakan gadgetnya, kemudian mereka mulai menyentuh panganan yang tersedia di atas meja, di depannya, bahkan kopi yg di hidangkan pun sudah dingin.

Sungguh, ini pemandangan akan situasi dan kondisi yang menarik. Orang atau kita semua sudah mulai kecanduan terhadap gadget. Kita mengalami adiksi terhadap Gadget yang menjadi alat untuk bermain dan berinteraksi satu sama kain: berkomunikasi dalam WA, FB, Line, menyatakan diri dalam Instagram, maupun bermain dengan Games. Kecanduan terhadap gadget sudah melanda semua segmen usia manusia, dari mulai anak-anak sampai dengan orang-orang tua. Tiada hari tanpa gadget. Tak ada waktu terbuang untuk gadget. Gadget sudah berada dalam posisi kedigdayaannya, yakni ia tak dapat ditahan lagi pengaruhnya kepada kehidupan manusia. Gadget yang kemudian bisa menengguhkan bentuk atau gaya prilaku kita.

Di sebuah Cafe itu, saya juga menyaksikan bahwa dalam sebuah meja yang di isi oleh sebuah keluarga utuh, tak ada satupun yang berkomunikasi satu sama lain, bercengkrama, selain mereka masing-masing asyik dengan gadgetnya. Interaksi anggota kelurga di meja makan itu hanya terjadi ketika mereka menuliskan pesanan makanan. Setelah itu, mereka kembali membuka gadget masing-masing: membaca dan menulis di WA, melihat dan menulis di FB, mengupload gambar selfi di instagram, bercakap-cakap di Line, dan mengirim pesan via email, serta berbelanjang melalui Online shopping.

Di Singapore, dan juga di kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bangkok, Banglore, London, Paris, Washington, New York, Brussel, Frankfurt, Amsterdam, Shanghai, Shenzen, Hongkong, Dubai, Doha, Mekkah, Jeddah bahkan kotaku tercinta Yogyakarta saya juga telah menyaksikan hal yang sama. Orang-orang sudah mengalami kecanduan dengan gadget. Kecanduan dengan media sosial. Mereka amat tergantung kepada gadget. Tak satupun dari mereka yang melepaskan diri dari “genggaman gadget”, bahkan dalam banyak hal kehidupan mereka telah “ditentukan oleh gadget”.

Gejala di atas, dalam khasanah ilmu sosial, dapat dikatakan sebagai “behavioral addiction”. Perilaku kecanduan. Kecanduan adalah sebuah perilaku yang dikategorikan buruk. Kecanduan merupakan suatu perilaku yang dapat menimbulkan dampak buruk terhadap masa depan seseorang. Kecanduan adalah sebuah “a deep attachment to an experience that is harmful and difficult to do without”. Kecanduan muncul ketika sesorang tak bisa menolak suatu tindakan tertentu. Umumnya, kecanduan itu berkaitan dengan “paychological need in the sort-term”, tetapi kecanduan itu menghasilkan “a significant harm in the long-term”.

Kecanduan biasanya diproduksi oleh lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan. Ada daya tarik di sana. Daya tarik yang membuat orang merasa nikmat, enjoy, bahagia, dan “merasa hadir”. Biasanya, Lingkungan yang berpengaruh pada diri seseorang bersifat—meminjam terminologi yang digunakan oleh Adam Alter (2017)—sebagai “Irresistible”, sebuah kecanduan yang tak dapat ditahan-tahan lagi. Gadget menarik setiap orang agar orang tersebut selalu menggunakannya. Ia telah menjadi alat dan mempromosikan “engineered to be irresistible”.

Tampaknya, sekarang ini, sosial media telah membentuk otak anak-anak muda kita (atau bahkan kita semua) untuk bekerja dengannya. Kita semua tak lagi disajikan kepada adanya pilihan-pilihan. Apa yang ada di sosial media telah terjadi dan telah dirancang memenuhi kebutuhan kehidupan kita. Teknologi telah membawa realitas nyata kehidupan kita menjadi “virtual reality”, sehingga kehidupan orang “lebih ramai” di dalam dunia virtual, tetapi makin sepi di dunia nyata. Dan kemudian, orang-orang mengalami kecanduan.

Perjalanan di waktu yang singkat itu—di Singapore—saya bisa memprediksikan bahwa banyak sekali pengembangan produk teknologi mempromosikan “addiction behavior”, yang menjanjikan sebuah “virtual reality experience”. Pengalaman yang bisa memberi inspirasi kepada perilaku kita semua, bahkan dapat menyajikan (merangsang) “rich emotions” kepada setiap kita. Demikianlah gadget dan (isinya) media sosial. Ia telah menjadi candu dalam kehidupan kita. Ia telah “mengendalikan” kita. Ia membuat kita cenderung meraihnya, tak menyisakan kita untuk menahan hasrat untuk bersosial media. Media sosial telah menempatkan dirinya menjadi daya tarik sendiri. Daya tarik yang tak dapat ditahan oleh kita semua. Tinggallah kita menjawab satu pertanyaan dari Adam Alter (2017) seperti ini: “Why you are addicted to technology and how to set yourself free?” Mudah-mudahan kita bisa menjawabnya, dan kita semua bisa memperlakukan teknoogi secara proposional agar kita masih bisa disebut sebagai “human being”, bukan “human robot”. Dengan begitu kita berharap Semoga kehidupan bersama kita akan tetap memiliki nilai kemanusiaan!

(Ditulis dalam penerbangan Jakarta Padang, disampaikan oral dalam ceramah di Univ Bung Hatta 6 Februari 2018 ).

Sumber Ilustrasi Foto:
https://cdn.medcom.id/images/content/2017/12/04/796868/bZjAYCBI94.jpg



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *