Bambang Cipto Pendidikan

PENDIDIKAN DAN MASA DEPAN BANGSA





Oleh: Bambang Cipto

Pertemuan tahunan World Economic Forum akhir Januari lalu sangat menarik karena tidak hanya membahas ekonomi dan perdagangan dunia. Namun menjadikan isu-isu pendidikan masa depan sebagai topik pembicaraan. Dengan membahas pendidikan otomatis sektor ini merupakan sektor sangat strategis dalam pengembangan ekonomi dan perdagangan bangsa.

Para pembicara bidang pendidikan bukan sekedar profesor ahli pendidikan. Namun justru milyuner China seperti Jack Ma plus pakar fisika Fabiola Gionetti dan pakar ekonomi LSE, Minouche Shafik. Mereka prihatin bahwa sistem pendidikan saat sebenarnya sudah tidak sesuai dengan masa depan bangsa-bangsa. Sistem pendidikan saat ini dikatakan telah berusia ratusan tahun dan sulit untuk menghadapi tantangan dunia 30 tahun kedepan.

Disamping itu, McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa sekitar 800 juta jenis-jenis pekerjaan saat ini akan lenyap pada tahun 2030. Menurut Jack Ma, pemilik raksasa e-commerce Alibaba, perkembangan artificial intelligence atau teknologi robot sangat pesat saat ini. Dalam waktu tidak lama robotlah yang akan mengambil alih sangat lapangan kerja saat ini. Salah satu contoh adalah di Jepang telah muncul kafe yang dilayani robot. Robot ini dapat berbicara untuk menawarkan kopi dan kalimat pendek lain agar penikmat kopi bersedia membeli kopinya. Contoh ini dimasa depan mungkin akan semakin banyak dan berpotensi merebut lapangan kerja karyawan warung kopi saat ini.

Menurut Jack Ma anak-anak sekarang harus diberi bekal yang sangat berbeda dan khusus untuk menghadapi perkembangan teknologi robot. Sistem pendidikan saat ini akan membuat manusia akan kalah bersaing dengan mesin yang dapat berbicara dan bekerja lebih baik. Pakar ekonomi LSE juga menyatakan bahwa pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang-ulang akan kalah bersaing dengan robot. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menciptakan anak didik yang kreatif, mampu melakukan penelitian, dan menciptakan sesuatu. Menouche bahkan mengusulkan agar sistem pendidikan saat ini harus dioverahaul dirubah total untuk menghadapi masa depan yang semakin didominasi oleh mesin-mesin cerdas.

Sementara itu pakar Fisika, Fabiola Gianotti menyatakan bahwa selama ini kita terobsesi untuk menguasai sains, teknologi, dan matematika sebagai jawaban atas kelemahan bangsa. Fabiola, sebaliknya, menyatakan bahwa sudah saatnya ilmu pengetahuan dipelajari dalam konteks hubungan satu sama lain. Dia menyebutkan bahwa belajar musik sama pentingnya dengan belajar matematika. Demikian pula ilmu-ilmu sosial yang sering dianggap kelas bawah dibanding sains dan teknologi. Saatnya pendidikan memadukan ilmu-ilmu exacta dan ilmu non-exacta agar para pelajar semakin kuat daya kreatifitasnya. Apakah Indonesia siap dengan transformasi masyarakat dimasa depan adalah persoalan kita semua. Yang jelas sektor pendidikan semakin berkembang menjadi sektor strategis yang harus diantisipasi secepatnya agar kita tidak tertinggal jauh di masa depan.

Sumber Ilustrasi Foto:
https://anotherorion.com/wp-content/uploads/2012/08/siswa-sekolah-dasar-indonesia-mengajar.jpg



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *