Doddy Yudhistira Adams Natsir

Pak Natsir

Oleh: Doddy Yudhistira Adams

Tak banyak orang yang tahu bahwa Mohammad Natsir, Ketua Umum Partai Masyumi dan Pernah menjadi Perdana Menteri dan Menteri Penerangan Republik Indonesia adalah seorang Wartawan yg pernah menjabat Ketua Dewan Kehormatan PWI. Beliau juga pendiri dan pemimpin Koran Abadi dan Majalah Hikmah di tahun 1950an.

Di tahun 1980an beliau pendiri dan pemimpin majalah Media Dakwah yang menyalurkan pokok2 pikiran dan pandangan hidup terhadap berbagai Persoalan Bangsa. Media Dakwah pun ber kali2 mendapat peringatan dari pemerintahan orba masa itu dan pernah di breidel terbit. Beliau Negarawan yang sangat dikagumi baik di Indonesia maupun dunia internasional. Beliau pernah menjadi Wakil Presiden Muktamar Alam Islami, Menjadi Presiden Dewan Masjid Dunia. Saya sangat mengenal beliau karena alm ayah saya pengaggum dan pengikut beliau.

Saya pun pernah ikut menjalankan Penerbitan Buku Sinar Hudaya milik Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Sebulan sekali saya bertemu beliau di kediamannya Jln Jawa Menteng mengantarkan buku dan honorarium tulisan beliau. Disanalah saya menimba ilmu agama dan politik dari negarawan besar M Natsir. Saya sangat mengerti beliau mencintai bangsa ini, beliau tidak membenci Soekarno, karena menurut beliau Soekarno pejuang yg memerdekakan Indonesia. Padahal M Natsir ber tahun2 ditahan Soekarno tanpa proses peradilan.

Setelah PRRI beliau ditahan bersama sama ayah saya, M Roem, Sjafruddin, Burhanuddin Harahap, Mochtar Lubis berpindah pindah di Jawa sampai Jakarta. Demikian pula dengan Soeharto, beliau tidak membencinya walaupun Soeharto menjaga jarak dengan beliau. Beliau selalu mengingatkan Soeharto lewat ber puluh puluh surat pribadi beliau.

Saat beliau menjadi Menteri Penerangan RI di Pemerintahan darurat Yogyakarta (th 1946-1949) beliau tinggal di Taman Yuwono Malioboro bersama Wakilnya AR Baswedan. Beliau banyak bercerita kepada saya tentang pengabdian dan Pengorbanan Hamengkubuwono IX terhadap Republik Indonesia. ” Coba kalau Yogyakarta tidak turun tangan materiil dan moriil saat itu, kemerdekaan ini benar2 terancam ananda Doddy.”

Di saat awal2 Pemerintahan orde baru M Natsir pun sangat berperan dalam perbaikan hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia. Saat itu PM Malaysia Tengku Abdurahman sangat hormat kepada M Natsir. Natsir bagi keluarga kami adalah penyelamat karena beliaulah yg menarik ayah ke Jakarta th 1968 untuk menjalankan penerbitan buku Sinar Hudaya. Bagi saya beliau tokoh panutan kecerdasan dan kesederhanaannya merupakan simbol pemimpin idaman untuk Indonesia. Salam DY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *