Doddy Yudhistira Adams Kolom

Menuju Kebangkitan Indonesia

Saya teringat pertemuan saya dengan seorang sahabat yang kini telah wafat Alm Cacuk Soedarijanto Mantan Dirut Telkom dan Dirut 1 Bank Mega. Suatu hari dibulan januari 1998 ia minta saya berbincang bincang minum kopi dan makan malam dirumahnya. Saat itu saya menjadi pejabat di Depdikbud, dan sahabat saya ini sedang berkonsentrasi untuk bersama banyak rekan rekan dari Cides dan organisasi politik lainnya membangun kesadaran baru tentang masa depan Indonesia yang jauh berbeda dari hari kemarin.

Seperti biasa kala berbincang dengan almarhum C Soedarijanto ini ia selalu minta saya banyak bicara, dan ia menyimak sambil sekali sekali mengatakan itu keliru menurutnya dan yang benar itu begini. Kritik dan pandangan yang ia sajikan selalu menukik pada persoalan nyata yang dihadapi. Sementara saya terus berupaya menempatkan realitas itu dalam mata rantai peristiwa dan berupaya menemukan “lesson learned’ dari buku buku yang saya baca. Alm Cacuk selalu menyebut saya “Nara Sumber Berita Yang belum teredit” sambil kami terus menyantap sate kambing kegemaran kami dan sayur ubi tumbuk serta ikan bakar yang disajikan Isteri beliau yang amat dicintainya.

Dalam setiap pertemuan , kami berdua selalu berupaya membangun dialog untuk menemukan persamaan dari perbedaan yang kami miliki. Sebuah persahabatan yang lama kami bangun sejak kami sama2 di Lemhannas th 1985 yl, kami satu Team tapi mas Cacuk satu2 nya sipil kala itu yg mendapat predikat Seroja ( 3 besar tamatan Lemhannas ).

Sebagai kenangan atas pembicaraan yang pernah saya lakukan dengan kawan kawan dimasa lalu seperti alm Cacuk yang entah kenapa waktu terbangun Malam tadi mau tahajud saya ingat padanya. Saya membaca Al Fatehaah untuknya dengen doa agar Allah Yang Maha Pengasih Penyayang melapangkan jalan kesurgaNya nan abadi.

Ingatan pada pembicaraan seperti itu yang menyebabkan saya kini mulai kembali menata ulang potongan catatan catatan pembicaraan masa lalu yang pernah dilakukan dan memilah yang mungkin layak untuk saya saring menjadi tulisan biografie saya dapat dishare untuk teman2 saya ini. Mudah mudahan akhir tahun saya dapat menerbitkan Buku yg sudah lama saya tulis. Begitu seterusnya untuk dipersembahkan buat bacaan anak anak saya dan kawan kawan satu generasinya, sebagai catatan hidup.

Karena itu harapan di Tahun 2018-2019 yang disebut tahun Politik. Tahun dimana rakyat akan memilih pemimpin yang memiliki visi dan misi tentang kemana suatu wilayah pertumbuhan ekonomi akan dikembangka. Apa muncul strategi dan langkah aksi nyata agar pertumbuhan ekonomi tidak melupakan tujuan kesejahteraan Bersama bagi semua rakyat yang memilih mereka. Pada tahun 2018 ini, pilkada serentak ada dimana mana.

Harapan bagi semua orang untuk menciptakan kehidupan demokrasi yang semakin bersinar . Demokrasi politik dengan ritual pilkada setiap lima tahunan hingga saat ini, tidaklah cukup jika kita tidak menempatkan demokrasi sebagai wahana pencipta kesejahteraan bersama. Demokrasi adalah musyawarah untuk mufakat yang dijiwai hikmah kebijaksanaan untuk menciptakan Keadilan social bagi seluruh rakyat begitu kata para Pendiri Republik di tahun2 awal kemerdekaan.

Pengalaman di banyak negara memperlihatkan bahwa Demokrasi tidak dapat berfungsi sebagai pembangkit kesejahteraan dan mesin pendorong pertumbuhan ekonomi tanpa desentralisasi kekuatan ekonomi yang tumbuh berkembang di pelbagai kawasan ekonomi. Inti dari Demokrasi adalah distribusi kekuasaan dan kewenangan yang dilengkapi oleh “systems check and balances”, agar tidak terjadi monopoli kekuasaan di satu tangan.

Dalam buku Demokrasi Kita, Bung Hatta sebagai Founding Father telah memberikan arah tentang demokrasi ekonomi dan demokrasi politik sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Tak mungkin Demokrasi Politik berkembang dengan baik tanpa demokrasi ekonomi. Dalam banyak tulisannya Bung Hatta menegaskan keyakinannya , ia mengatakan :”bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsafan yang bertambah besar oleh karena seperuntungan, malang yang sama diterima, mujur yang sama didapat, pendeknya oleh karena peringatan kepada riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak”.

Pada kedalaman filosofinya, demokrasi ekonomi Bung Hatta berisi gagasan tentang pola pengambilan keputusan sosial-ekonomi di tangan publik mayoritas .Rasionalitas yang mendasarinya adalah pandangan bahwa hak politik yang penuh tidak dapat dimenangkan tanpa hak ekonomi yang penuh. Untuk menjamin tata kelola perekonomian yang demokratis dan memastikan distribusi yang pantas atas sumber daya ekonomi, kontrol politik dan hukum selayaknya dikembalikan kepada rakyat mayoritas. Hatta menegaskan bahwa rakyat tidak akan benar-benar berdaulat kecuali juga berdaulat dalam bidang ekonomi

Ini sebuah adagium yang kelihatannya dapat digunakan jika kita merenungkan makna demokrasi bagi kemajuan suatu bangsa. Sebab demokrasi adalah wahana bukan tujuan akhir. Sebuah wahana tak mungkin ia dapat bergerak seenaknya tanpa arah dan tujuan.
Demokrasi bukan semata mata soal kebebasan berpendapat, bukan juga hanya suatu system yang bertumpu pada mekanisme pemungutan suara setiap lima tahun. Demokrasi harus ditempatkan sebagai pilar pencipta kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya. .

Ada banyak jalan dan strategi pertumbuhan ekonomi. Ada mazhab ekonomi yang mengedepankan fungsi memperbesar kue ekonomi sebagai prioritas. Ada mazhab yang mengatakan bahwa kesejahteraan Bersama dan upaya mempersempit jurang antara kaya miskin menjadi yang utama berbareng dengan langkah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Growth with Equity dan Growth for all. Seperi yg selalu di katakan Cacuk disetiap ceramahnya.

Salah satu kebijakan yang dapat muncul dari alam demokrasi adalah konsistensi kebijakan industrialisasi dengan mengembangkan apa yang disebut klaster Kawasan industry sebagai wahana pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini tidak berarti melupakan pertanian dan peternakan. Karena pada hakekatnya sector pertanian dan peternakan serta sector lainnya dapat dikemas dalam kerangka industrialisasi.

Industri berarti mengolah bahan baku melalui penguasaan iptek untuk menciptakan produk bernilai tambah tinggi. Industri mempersyaratkan lahirnya mata rantai proses produksi dari hulu ke hilir. Tiap mata rantai memiliki standardisasi, mekanisme dan system operating procedure serta kualitas manusia bersumber daya iptek yang berbeda, bertingkat dan berjenjang. Hal ini yg juga selalu di sampaikan guru-kakak saya Prof BJ Habibie. Mata rantai nilai tambah atau value chain yang berfokus pada “Cost Efficiency” dan “Value Creation”. Sinergi positif yg akan selalu menghasilkan nilai tambah.

Sejak tahun 1945 Founding Father Indonesia mencita citakan Indonesia yang Demokratis dengan Kesejahteraan Sosial yang Tinggi. Setiap orang mampu memanfaatkan keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya dalam jaringan lapangan kerja yang tercipta oleh kebijakan Negara yang pas dan sistimatis berkesinambungan.

Dalam kerangka fikiran demokrasi ekonomi seperti disampaikan diatas , maka pembangunan kawasan industri Nasional yang kokoh dan kuat, menempati posisi strategis dalam kebijakan ekonomi selama 48 tahun ini. Suatu arah kebijakan ekonomi yang didasarkan pada preposisi utama :”Industrialisasi mustahil tumbuh berkembang tanpa perlindungan negara yang kuat dan terus menerus”.

Mengapa sebagai suatu bangsa kita terus menerus seolah kalah bersaing dengan bangsa bangsa lain didunia dalam memproduksi barang dan jasa adalah pertanyaan klasik yang selalu muncul dipermukaan. Solusi atas pertanyaan itu adalah “policy on trade and industrialization”. Kebijakan tata kelola mekanisme pasar dan tata niaga produk industry Nasional.

Tingkat industrialisasi dibatasi oleh luasnya pasar. Mengapa di abad 18, Inggris dan bukan Belanda yang menjadi pembangkit Revolusi Industri Pertama adalah karena kesuksesan Inggris dalam menciptakan pasar tekstil dan mata rantai pasokan bahan baku kapas di dunia pada abad ke-18. Yang membuat industry tekstil dan produk tekstil tumbuh berkembang.

Demikian juga mengapa Amerika Serikat dan bukan Perancis atau Jerman yang mampu menyalip Inggris menjadi negara adidaya ekonomi berikutnya adalah karena dukungan kebijakan pemerintah AS yang konsisten dalam menciptakan pasar barang produksi industry dalam negerinya di abad ke-19.

Yang lahir menjadi penemu terbesar dunia seperti Thomas Edison dan raksasa industri seperti Andrew Carnegie, Henry Ford, JP Morgan, John D. Rockefeller, dan Cornelius Vanderbilt.

Di abad 21 yang disebut sebagai abad Asia, bukannya India melainkan Tiongkok yang berada diposisi terdepan untuk mengambil alih posisi Amerika Serikat di bidang manufaktur dan inovasi.

Mengapa begitu ?

Ini semata mata karena secara sadar dan sistimatis Pimpinan Politik Ekonomi di Tiongkok telah secara konsisten dan bertahap berhasil menggunakan kombinasi instrument fiscal dan moneternya untuk mewujudkan kekuatan daya saing Industri Nasionalnya. Dengan mengembangkan kebijakan untuk meproteksi pasar domestiknya dan menciptakan pasar raksasa bagi Industri Nasionalnya. Mereka dengan cerdik menempatkan Industri Nasional sebagai ujung tombak penciptaan lapangan kerja dan sekaligus wahana untuk mendidik tenaga kerja trampil untuk meng -imitasi, mengadopsi dan menguasai iptek Negara lain, untuk dimanfaatkan sebesar besarnya bagi kemakmuran Bersama.

Mereka dengan teliti mendefinisikan wilayah pertumbuhan ekonomi sebagai klaster industry bertujuan eksport dan Kawasan berikat Free Trade Zone, yang pada gilirannya menjadi tempat dan pusat engineering dan produksi dunia. World Factory and World Engineering Center. Sebab mereka memahami pengaruh tata kelola manajemen industry global MNC yang selalu berorientasi pada upaya menemukan Cost Efficiency dan value Creation. Menemukan wilayah pertumbuhan ekonomi tinggi dengan biaya murah. Low Cost High Yield.

Bagi Pemimpin Politik Tiongkok mereka tidak terjebak dalam faham nasionalisme sempit yang menyatakan bahwa hanya modal dan perusahaan milik warga negara mereka saja yang boleh beroperasi didalam negeri. Mereka memberi izin untuk perusahaan yang bermarkas besar di New York ataupun London atau Tokyo menanamkan modal investasinya melalui skema Foreign Direct Investment ataupun Penanaman Modal Asing atau melalui pasar saham , untuk membangun mata rantai pabrik komponen, suku cadang ataupun perakitan akhir di Kawasan Industri seperti Guangzhou, Shenzen, Tianjin hanya untuk mendapatkan sertifikat sebagai Industri Nasional mereka dan memiliki akses pada pasar domestic Tiongkok.

Pasar Tiongkok ini berapa kali jauh lebih besar dari pasar Amerika SerikatDi Tiongkok muncul kesadaran para pemimpin politik nya akan kenyataan bahwa “Pasar ‘bebas’ tidaklah sepenuhnya bebas dari pertarungan kepentingan. Pasar adalah barang publik mendasar yang sangat mahal.

Ambil contoh proses pembangunan industri yang sedang berlangsung sejak masa 1978 di Tiongkok yang didorong tumbuh berkembang bukan semata mata karena keberhasilan untuk menciptakan “layer keahlian” manusia bersumber daya iptek dalam mengadopsi teknologi maju.

Meski pembangunan keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek merupakan prasyarat utama dari kemajuan industry nasional. Melainkan karena penguasaan teknologi oleh Manusia bersumber Daya Iptek, ditopang oleh pilar keberhasilan kebijakan ekonomi yang diarahkan pada upaya sistimatis berkesinambungan.

Kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk penciptaan pasar domestic yang kuat dan kokoh dalam melindungi produk yang dibuat di dalam negerinya sendiri, oleh manusia bersumber daya iptek yang bekerja di pelbagai sektor industri nasional nya.

Pengalaman Tiongkok dari sejak tahun 1978 hingga 2018, atau 40 tahun, menunjukkan bahwa Pasar untuk barang-barang industri yang diproduksi secara massal didalam negeri tidak dapat diciptakan oleh satu policy economy ‘big Push’ berupa kebijakan industry substitusi impor dan “export oriented economic policy” semata.

Tidak mungkin industry nasional dapat tbuh berkembang hanya melalui sebuah surat keputusan dan program deregulasi diatas kertas semata. Ada proteksi terus menerus yang dipimpin oleh pemerintah untuk memajukan Industri Dalam Negeri melalui pelbagai kebijakan ekonomi, industry dan perdagangannya.

Industri tak mungkin tumbuh berkelanjutan hanya dengan “shock theraphy”. ini hanya dapat dibuat langkah demi langkah dalam urutan yang benar dalam rangkaian urutan ‘shock therapy’ untuk menjebol dan membangun pasar domestic yang memihak pada produk dalam negeri.

Jika kita ingin memetik pelajaran dari Kebangkitan Tiongkok untuk supremasi ekonomi global yang tak terbendung , itu semata mata karena mereka telah menemukan dan mengikuti resep yang benar melalui sistimatika urutan penciptaan pasar bagi industry dalam negerinya.

Pendekatan ini berbeda dengan kebijakan industry yang sebelumnya. Tiongkok mengalami tiga kali kegagalan dalam proses industrialisasi antara 1860 dan 1978. Sebab tidak dikaitkan dengan kebijakan perdagangan dan tata niaga komoditas dalam negeri.

Dengan kata lain Pasar domestik adalah kekuatan pembangkit industry. Tanpa pasar domestik yang terkelola dengan baik maka industry Nasional akan kehilangan mata air, sumber aliran revenue dan EBITDA yang cukup untuk tetap bertahan sepanjang masa.

(Disarikan dari Orasi BJH pada pertemuan memperingati 20th Reformasi. Icmi dan tokoh2 muda penerus bangsa.) Salam Doddy Yudhista.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *