Doddy Yudhistira Adams Kolom

CAK NUR (Nurcholish Madjid)

Oleh: Doddy Yudhista

Secara personal, perjumpaan Sy dengan Cak Nur tak banyak, kecuali mengikuti Seri Klub Kajian Agama yg dirintisnya sejak awal. Ada juga rasa sesal karena kemarin tak bisa ikut acara “haul” bersama teman-teman, khususnya yg tergabung dlm Nurcholish Madjid-society.

Tiga belas tahun silam, Sy bersama Pak Malik Fajar dan Pak Andi Wardiman Djojonegoro, turut hadir menyaksikan upacara pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Banyak tokoh nasional dari beragam spektrum hadir di sana, bukti bhw Cak Nur punya reputasi pergaulan yg luas, selain tentu saja rasa hormat atas segala baktinya selaku Cendikiawan Muslim.

Ingatan saya yg agak personal adalah ketika pada awal th 80-an datang ke rumahnya di Jl. Johar, Jaksel, tak lama sepulangnya dari Amerika, mengundang untuk memberi ceramah di IKAPI Jkt. Itulah perjumpaan langsung saya, meski namanya sudah saya dengar sejak saya masih belajar di FHUI.

Cak Nur orangnya sangat ramah, murah senyum, dan punya respek yg besar tehadap lawan bicara. Ia mendengarkan dengan baik dan mencerna pembicaraan dan memberikan tsnggapan. Sbg anak muda ketika itu, diam2 saya merasa tersanjung. Dia mengagumi kiprah saya sebagai Ketua IKAPI dan menyatakan buku tidak mungkin lepas dari dunia pendidikan, dengan bukulah mengantarkan seseorang jadi cerdik pandai. Banyak obrolan ringan dlm perjumpaan itu. Yg agak serius soal buku Ahmad Wahib yg baru saja terbit dan sempat memicu kontroversi di kalangan ummat -yg bukan tanpa sengaja saat itu saya membawa bukunya untuk Cak Nur.

Pada hari yg dijanjikan saya datang menjemputnya menggunakan mobil pribadi, Toyota Kijang keluaran pertama: Kijang Mambo. Di sepanjang jalan Cak Nur memuji mobil ini karena dibuat dng karoseri Indonesia. Ia sedang bayangkan Indonesia kelak seperti India dlm urusan teknologi: Bikin kereta sendiri, mengangkut rupa2 komoditi sendiri. Soal kemandirian ekonomi dan capaian peradaban. ” Mobilmu bagus Dod, karoseri asli Indonesia, kuat ini.” Sapanya.

Yg agak mengagetkan adalah pada kunjungan kedua di rumahnya. Saya mendapati Cak Nur, di halaman depan rumahnya, dng sekujur kaus berlumur cairan oli. Belepotan ngak karuan. Ia baru saja keluar dari kolong mobil, memperbaiki sendiri. Katanya, dia lumayan ngerti dan senang urusan mekanik/mesin. Dalam hati: Ah, bagian ini orang banyak yg tak tau…

Ok. Apa impressi terpenting dari Cendikiawan Muslim kritis seperti Cak Nur? Ia tak snob sbg seorang santri terpelajar harus berhadapan dng nasib ummat yg sebagian besar masih “terbelakang”. Ia jauh dari sikap2 sinikal . Ia kritis trhdp ummatnya (juga bangsa) tapi dg simpati besar ingin memberi arah jalan keluarnya.

Demikian, kesan saya tentang tokoh Cak Nur, berbicara dng beliau bagai membaca sebuah buku. Semoga amal baik yg telah diperbuat Cak Nur semasa hidupnya mendapat tempat yg layak di sisi Allah SWT. Amin YRA. Lahu al-fatihah…. Sahabatmu DY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *