Bambang Cipto Kolom

POLITIK BERKEADABAN ALA MUHAMMADIYAH

Oleh: Prof. Dr. Bambang Cipto, MA

Dalam perbincangan sehari-hari kita sering mendengar pernyataan bahwa politik itu kotor, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Pernyataan ini ada benarnya karena pertarungan politik dimanapun didunia ini sering memakan korban hingga luka secara fisik atau bahkan meninggal. Disebabkan karena sebuah rejim yang berusaha mempertahankan kekuasaan menggunakan kekerasan fisik untuk menindas para pengritik atau pihak oposisi. Kajian teori politik menemukan benang merah antara kekerasan politik yang dilakukan rejim yang berkuasa maupun politisi yang berkuasa dengan gagasan atau filsafat Machiavellian. Politisi dan diplomasi Italia, Nicolo Machiavelli, yang hidup di sekitar abad ke lima belas adalah penulis buku the Prince atau Pangeran. Buku tersebut menggambarkan keadaan Italia yang sedang dalam kondisi politik yang buruk. Machiavelli menuliskan apa yang harus dilakukan seorang raja jika menghadapi situasi politik yang buruk dan harus mempertahankan kekuasaanya.

Menurut Machiavelli raja haruslah seseorang yang dapat berubah dari seekor kelinci menjadi singa dalam hitungan jam tergantung situasi yang menuntutnya. Artinya yang lemah lembut harus mengubah diri menjadi singa yang buas, kejam, dan mengerikan jika memang keadaan menuntutnya untuk melakukan hal itu. Filosofi ini mengabaikan moralitas atau akhlak berpolitik secara terang-terangan. Di kemudian hari praktek Machiavellian ini terus dipertontonkan para penguasa dimanapun hingga saat ini untuk mempertahankan kekuasan mereka. Sebenarnya sebelum jauh sebelum Machiaveli lahir Quran telah datang mengingatkan pada manusia bahwa Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS. As-Syams: 8). Sehingga diri setiap manusia sesungguhnya terdapat potensi berbuat baik sekaligus berbuat jahat. Hanya orang-orang beriman yang dapat menghindarkan diri dari ajakan berbuat jahat.

Sekalipun politik mampu mengubah manusia sebelumnya baik menjadi manusia yang ganas namun hingga kini keinginan seseorang untuk terjun kedalam kancah politik tetap tinggi karena politik menjanjikan harta, kekuasaan, dan pada kasus tertentu juga menjanjikan wanita. Sehingga Indonesia yang telah menerapkan sistem politik terbuka sejak reformasi yang digulirkan pak Amin Rais juga menyaksikan gelombang naik calon-calon politisi tua maupun muda, pria maupun wanita setiap lima tahun sekali. Lalu bagaimana sikap Muhammadiyah menghadapi kenyataan politik dewasa ini.

Sebagai agama rahmatan lil alamin, politisi Muhammadiyah wajib menciptakan kondisi masyarakat yang rahmatan lil alamin (wama arsalnakan ila rahmatan lil alamin al Anbiya 107). Politik yang berkeadaban adalah politik yang mampu menyebarkan rahmatan lil alamin. Rahmat berarti kelembutan yang bercampur rasa iba atau kasih sayang Allah (kepada seluruh alam). Kasih sayang Allah ini menyebar luas diseluruh alam tanpa kecuali. Orang baik maupun tetap mendapatkan kasih sayang Allah yang tak terbatas. Terbukti para politisi yang jahat dan korup selalu ada dimanapun diseluruh sudut bumi kita.

Jika politisi mampu mewujudkan rasa kasih sayang pada sesama manusia ini maka politisi akan menjauhkan diri dari sifat mementingkan diri dan keluarganya. Setiap politisi di Indonesia apalagi politisi nasional adalah orang-orang beruntung memakan gaji negara dalam jumlah sangat besar dibandingkan rakyat biasa yang miskin, tak terdidik yang sangat besar jumlahnya. Jutaan warga miskin saat ini masih membutuhkan uluran bantuan. Jika para politisi hanya memikirkan dirinya sendiri dan kelompoknya jelas rasa kasih sayang pada sesama warga tidak akan terwujud. Diperlukan politisi yang memahami makna rahmatan lil alamin agar kesejahteraan rakyat secara keseluruhan akan meningkat.

Menurut pak Haedar Nasir, politik harus dalam kerangka muraqobah dalam artian merasa diawasi. Muroqobah mirip dengan konsep Ihsan dalam mana orang beriman selalu merasa diawasi oleh Allah walaupun dia tidak mampu melihatnya. Pragmatisme politik sering membawa manusia pada situasi yang menyenangkan seperti kelebihan harta, kekuasaan dan wanita. Disinilah sifat muraqobah sangat diperlukan agar tidak terjerumus dalam tindakan korupsi misalnya. Politisi yang tidak mampu mewujudkan sifat muroqobah dalam dirinya akan mudah tergelincir kedalam kubangan korupsi. Terbukti sangat banyak politisi muslim yang tertangkap dan dipenjara karena alasan korupsi. Mereka ini tidak sadar bahwa manusia selalu diawasi dimanapun ia berada. Wahuwa maakum ainam kuntum. Sehingga sesungguhnya sulit sekali terjadi korupsi dan tindak kejahatan lain jika sifat muroqobah ini melekat pada setiap politisi muslim.

Dalam kesempatan lain pak Haedar juga mengingatkan agar jangan mudah menjudge orang karena ada kekeliruan tertentu. Jika seorang politisi atau seseoran melakukan kesalahan sebaiknya dipelajari lebih dahulu penyebab kesalahan tersebut dengan tawasau bil haq (saling berpesan dalam kebenaran) dan tawasau bil sabr,” (saling berpesan dalam kesabaran). Semangat ini menghindarkan kita dari tindakan terburu-buru yang bisa menyebabkan terjadinya pembunuhan karakter seseorang. Lagi pula bukankah dalam surat At Taubah ayat 71 Allah mengingatkan bahwa orang beriman laki-laki dan perempuan saling tolong menolong satu sama lain (bagduhum aulia bagdi). Prinsip saling tolong menolong merupakan prinsip yang jika diterapkan secara konsisten akan memperkuat persatuan umat Islam dan bukan memecah belah umat Islam.

Politik dalam pandangan pak Haedar adalah bagian dari muamalah dunia. Semua boleh kecuali yang dilarang. (muamalah: nikah, talak, rujuk, perdagangan, jual beli). Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (Baqarah 280). Dalam ayat ini Allah mengajarkan prinsip hubungan antar manusia mesti didasarkan pada rasa kasih sayang yang tulus. Sikap ini jika diterapkan akan semakin memperkuat kerjasama antar umat Islam.

Pak Haedar juga menyatakan bahwa umat Islam Indonesia tidak cukup hanya berkarakter moderat tetapi juga harus maju (berkemajuan), yakni, unggul dalam segala bidang kehidupan. Dengan demikian kehadiranya sebagai pembawa misi rahmat bagi semesta alam benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata dimuka bumi. Untuk mencapai kemajuan bangsa dengan demikian perlu meningkatkan upaya menuju prestasi puncak pada semua sektor. Sekedar moderat saja, apalagi sekedar melakukan ancaman teror pada Barat saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Belajar dari China mungkin perlu sebagaimana hadis Nabi “carilah ilmu meskipun di negeri China, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim,” (Utlubul ilma walau bisiini fainnal tolabal ilmi faridotu ala kulli muslim). Ini mengisyaratkan bahwa ilmu telah berkembang di China saat Islam hadir kemuka bumi padahal Nabi belum pernah sekalipun pergi ke China. Dalam konteks ini kita perlu belajar ke China karena China memilih meningkatkan kemampuan dalam bidang ekonomi, sains dan teknologi serta militer hingga ketingkat setinggi mungkin yang membuat negara tersebut disegani oleh kawan dan lawan. Jadi membangun peradaban bukan dengan jalan revolusi atau terorisme tapi dengan mengembangkan sektor-sektor strategis kehidupan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *