Berita

Catatan Pertemuan ICMI DIY dengan Bupati Kulonprogo

2 Des 2018 @ Di Kantor Bupati

Pertemuan dibuka oleh Gus Andri. Kemudian segera diikuti dengan presentasi hasil penelitian oleh Akbar Susamto, Ketua Tim Peneliti Kemandirian Kulonprogo dari ICMI DIY. Dalam paparannya, Akbar menyampaikan beberapa temuan lapangan terkait program Bela-Beli Kulonprogo. Keberhasilan tertinggi Program Bela-Beli ada pada item Airku, disusul Beras Daerah, dan Gebleg Renteng. Dalam tiga aspek ini, Pemkab Kulonprogo berhasil membangun iklim produksi sekaligus konsumsi (pasar internal). Hal yang berbeda terjadi pada item Teh / Kopi Menoreh, Batu Andesit dan Gula Semut. Dalam ketiga item, iklim yang terbangun lebih pada semangat produksi, sedangkan konsumennya adalah warga luar daerah hingga mancanegara. Produksi dan konsumsi tidak berjalan seiring.

Kondisi spesifik terjadi pada program Tomira. Warga, melalui koperasi, baru bisa menitipkan barang, tetapi dengan catatan. Barang titipan warga belum masuk billing system, melainkan lewat pembukuan manual. Warga pun tidak memiliki akses pada proses pengambilan keputusan pafa ranah manajemen.

Akbar kemudian menyampaikan rekomendasi kebijakan. Agar Program Bela-Beli memiliki roadmap, memiliki Tim Pendamping program dari kalangan profesional, serta memiliki payung hukum untuk kelangsungan program ke depan.

Merespon hasil penelitian dan rekomendasi yang diberikan, Bupati Hasto Wardoyo sangat bersemangat. Tidak ada temuan riset maupun rekomendasi yang ditolak. Semua diterima sepenuh hati. Mengapa?

Pertama, proses riset ini independen, sehinga hasilnya pun tentu lebih objektif. Akan berbeda jika pelaksanaan riset dilakukan oleh Dewan Riset Daerah, suasana ewuh pakewuh tentu akan mewarnai hasilnya. Kedua, proses riset dilakukan secara mandiri (swadana) oleh ICMI DIY. Maka Pemkab Kulonprogo memperolehnya secara gratis. Jadi, sarat dengan unsur pemberdayaan. Ketiga, usulan perlunya Roadmap dan Dewan Pendamping Program Bela-Beli akan segera ditindaklanjuti. Sudah saatnya Program Bela-Beli dirancang dengan timeline dan indikator yang terukur.

Sisi lain dari Program Bela-Beli, dijelaskan oleh Hadto Wardoyo, ada dua makna. Yakni kemandirian ekonomi warga. Dan meningkatnya kesejahteraan. Terkait dengan kesejahteraan, maka hal yang lebih dipentingkan dalam aktifitas ekonomi adalah terwujudnya penghasilan. Sedangkan aspek konsumsi menjadi hal yang terpisah.

Terkait dengan lambatnya aksesibilitas warga dalam manajemen minimarket berjejaring, Hasto menegaskan beberapa hal. Pada satu sisi, Hasto ingin mengenalkan manajemen modern bagi para pelaku ekonomi lokal. Pada sisi lain, Hasto berusaha berusaha menyentuh kepedulian dan keberpihakan pelaku ekonomi makro kepada kelompok ekonomi lemah.

Kemajuan teknologi dan kekuatan kapital besar hanya bisa dilawan dengan ideologi. Kemauan untuk membela kelompok ekonomi lemah ini memerlukan semangat tak kenal menyerah. Juga pendekatan perlu taktis, bukan konfrontatif. Kalau dilawan secara frontal, ekonomi daerah justru akan lumpuh. Semua daerah butuh investasi. Kalau terburu-buru menggulirkan regulasi yang menentang modal besar, maka Pemda bisa digugat karena berseberangan dengan semangat pasar bebas.

Keberpihakan perlu terus dibangun. Tetapi menghadapi kekuatan kapital besar perlu daya juang yang tinggi, disertai taktik dan strategi yang jitu. Jangan sampai melakukan blunder yang melahirkan bumerang bagi perekonomian daerah.

Sumber Foto: https://bisniswisata.co.id/wp-content/uploads/2017/07/hutan-mangrove-kulon-progo.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *