Berita

Catatan Pertemuan ICMI DIY: “Memaknai Substansi Keistimewaan”

Catatan Pertemuan ICMI DIY
Kamis, 10 Jan 2019

Tema:
“Memaknai Substansi Keistimewaan”

Pijakan Regulasi

Perda 16/2017 tentang Paramporo Projo menjelaskan bahwa lembaga ini bersifat nonstruktural. Tugasnya memberikan rekomendasi (bukan telaah) kepada Gubernur DIY, baik diminya maupun tidak. Sifat rekomendasi ini rahasia, tidak boleh dipublish. Hanya rekomendator dan Guberrnur DIY yang tahu isi rekomendasi

Asumsi Umum
Pandangan yang umum berkembang di kalangan masyarakat seolah membatasi keistimewaan sebagai pengelolaan Danais dan Suksesi kraton. Tidak keluar dari pemahaman dan pakem semacam itu. Lalu, apa korelasi keistimewaan ini bagi masyarakat DIY secara luas? Rasulan masyarakat dusun, , pentas wayang kulit, jathilan, dan sejenisnya? Apa hubungan antara keistimewaan dengan kualitas hidup masyarakat DIY?

Suasana Rapat

Paparan Paramporo Projo
Secara umum, tujuan keistimewaan DIY adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hingga saat ini, DIY menampilkan wajah ganda paradoksal. Pada satu sisi, angka kemiskinan di DIY masuk 3 besar untuk skala nasional. Pada sisi lain, angka harapan hidup di DIY merupakan yang tertinggi pula untuk tingkat nasional. Dalam kaitan ini, ICMI bisa membantu untuk merumuskan parameter yang relevan. Menjelaskan tingginya angka kemiskinan, sekaligus tingginya angka harapan hidup di DIY. Di samping itu, terbuka peluang luas bagi ICMI untuk melakukan riset seputar indeks publik tentang keistimewaan. \

Paramporo Projo DIY sebenarnya terbuka terhadap berbagai masukan konstruktif tentang keistimewaan. Jika ada ide-ide positif terkait pemaknaan keistimewaan dari luar, maka hal ini akan disampaikan oleh Paramporo Projo, baik personal maupun institusional, kepada Gubernur DIY. Pada dasarnya, Gubernur DIY merupakan pribadi yang sangat terbuka. Contoh riil, dari 8 anggota Parampiro Projo, hampir separo di antaranya merupakan warga yang berasal dari luar DIY. Prof Dr. Edy Suandi Hamid berasal dari Palembang. Lalu ketua Paramporo Projo, Prof. Dr. Moh Mahfud, berasal dari Madura. ICMI bisa melakukan berbagai FGD untuk menghasilkan konsep-konsep dan formulasi keistimewaan.

Rekomendasi
Dari asumsi, prolog dan paparan seputar keistimewaan, maka catatan penting dari ide-ide yang berkembang dalam diskusi adalah perlunya UCMI menginisiasi sebuah kegiatan yang bisa mengubah keistimewaan dari tataran lengetahuan ke tataran gerakan. Keistimewaan tidak boleh berhenti pada program, yang berkonotasi penghabisan anggaran.

Keistimewaan harus ditransformasikan menjadi sebuah gerakan masyarakat. Dalam rangka mewujudkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Jika keistimewaan telah menjadi gerakan, maka spektrumnya akan cepat neluas. Tanpa dukungan Danais pun, gerakan itu akan terus bergulir di tengah masyarakat. Dan jogja akan menjadi role model (qaryah thayibah, ataupun uswatun khasanah) dalam gerakan masyarakat menuju kehidupan yang lebih berkualitas. Dalam layanan birokrasi, kenyamanan lingkungan, keadaban warga, tata kota, dan lain sebagainya. Dengan komando Gubernur yang sekaligus Raja, gerakan ini akan terus bergulir. Karena kesinambungan kepemimpiban pemerintahan tingkat propinsi terjaga dengan baik. Ini kelebihan DIY jika dibandingkan propinsi lain.

Isu Non Keistimewaan

–Iklim dan atmosfir birokrasi di DIY masih berjalan standar, belum mencerminkan ruh dan semangat keistimewaan

–Lingkungan hidup di DIY dalam posisi sangat mengkhawatirkan karena daya tampung TPA Piyungan yang seharusnya berakhir pada 2012, hingga saat ini (2019) belum ada ganti TPA yang baru

–Pendidikan di DIY saat ini tidak lagi menjadi kiblat utama karena perkembangannya kalah dengan Malang dan Jakarta.

–Tata Kota Yogyakarta sekarang kalah jauh dengan Surabaya yang sekarang telah menjadi acuan bagi dunia internasional.

–Infrastruktur jalan di DIY kalah dengan Solo yang telah memiliki fly over dan underpass di beberapa titik sehingga kemacetan bisa teratasi dengan baik. Jika pertigaan maguwo ataupun Concat dan Perempatan Kenthungan bisa segera juga memiliki fasilitas underpass atau flyover, maka kemacetan di DIY akan bisa diurai. Pemda DIY dianggap terlalu sungkan dalam mengajukan anggaran infrastruktur jalan ke pemerintah pusat. Sehingga, berakibat pada macetnya berbagai ruas jalan.

–Rasio tentang tingkat hunian hotel atau penginapan perlu studi serius. Hal ini dalam rangka mereview dihentikannya moratorium pembangunan hotel. Dengan dampak, titik kemacetan semakin banyak, sumur warga rawan kekeringan karena dibangunnya sumber air hotel, serta genangan air ada di mana-mana karena pembangunan tidak disertai denfan sumur resapan yang semestinya. Di samping itu, persaingan usaha bidang perhotelan semakin tidak sehat.

–Iklim kekerasan di DIY cukup memprihatinkan. Baik terkait dengan tindak asusila, klithih, pesta seks, cyber crime, iklim intoleransi, maupun yang lain.

–Ekonomi kreatif di DIY, apabila mendapatkan dukungan kebijakan yang kondusif, diharapkan akan mampu menjadi salah satu alternatif pengentasan kemiskinan.

–Sosialisasi keistimewaan perlu dilakukan lebih massif dengan melibatkan perangkat sosial yang ada di tengah masyarakat seperti PKK, Karang Taruna, Dasa Wisma, dll.

Pemantik Diskusi:
–Prof. Dr. Edy Suandi Hamid (Anggota Parampara Praja Bidang Pembangunan/ Ketua Dewan Pakar ICMI

Moderator Diskusi:
–Herry Zudianto, Akt. SE,. MM. (Ketua Umum ICMI DIY)

Srikandi Diskusi:
— Lisnani Pamela
— Emy Edy Suandi
–Fadmi Sustiwi

Peserta dan Kontributor Diskusi:
–Sebagian besar Punggawa ICMI DIY lintas Departemen hadir semua

Penutup

— Banyak agenda mendesak yang akan dilaksanakan ICMI DIY dalam waktu dekat: 1) Seminar BPJS ICMI DIY bermitra dengan FK UII, estimasi sekitar pertengahan Maret. 2) Seminar “Islam dan Kebangsaan” kerjasama ICMI DIY dengan Rektorat UII. 3) FGD ICMI DIY dengan Pemkab Kulonprogo seputar hasil riset Program Bela-Beli 4) Seminar Nasional pasca Pilpres, dengan estimasi sekitar Mei 2019, menghadirkan BJ Habibie, sekaligus rangkaian roadshow ke Jogja.

–Peserta Diskusi mengakhiri agenda pertemuan dengan makan petang Bakmi Jawa di Mbah Gito, Jl. Nyi Ageng Nis Kotagede. Pemberi sedekah: Ibu Emy Edi Suandi.

–Tindak lanjut FGD Keistimewaan agar keberadaan ICMI DIY bisa berkontribusi nyata bag peningkatan kualitas dan taraf hidup masyarakat sekutarnya

Comment here